Saat Tidak Tau Harus Mengadu Ke Mana

Dalam hidup, tidak ada manusia yang tidak punya masalah. Hampir bisa dipastikan 80% hidup tiap orang itu dikelilingi awan tebal bernama masalah.  Ya masalah apa aja. Mulai dari keluarga, pacar, sahabat, ekonomi, dan tetek bengek yang kadang tidak perlu dipersoalkan seperti kalau aku ngak mandi pagi ada yang naksir ngak ya.

Dan ketika sekian tumpukan masalah sudah menggunung bak cucian yang menunggu untuk disetrika, apa yang harus kita lakukan? Atau pertanyaan umum, kemana kita hrus mengadu? *moga aja iya itu pertanyaan umum. Karna pada dasarnya tiap-tiap orang di sini pasti akan bercerita terlebh dahulu. Baru setelahnya mencari jalan keluar untuk pemecahan masalah*

Jika masalahnya pacar, yah diselingkuhi, pacarnya suka banget lirik kanan-kiri pas lagi jalan bareng ampe dia itu nabrak tiang listrik. *sukur ngak gardu bertegangan tinggi*. Atau pacarnya diem-diem suka makan jengkol dan pete pas malam jum’at. Bisa dipastikan orang yang berlebel sahabat akan dicari untuk diceritakan hal-hal di atas. Paling barter, orang yang bawa-bawa papan bertulis teman kalau si sahabat lagi ngak ada. It’s ok! Setidaknya kita tau kemana kita harus menumpahkan semua kekesalan dan uneg-uneg di hati ini. Yah meskipun pake bumbu-bumbu lebay dan ada adegan ngiris bawang ampe berlumuran air mata, tapi boleh lah.

Hufh. Mesti narik nafas panjang banget nih. Yah secara tekanan darah saya rendah, cuma 85 apagitu embel-embel belakangnya. Pokoknya gitulah! Jadi efek sampingnya itu, punya nafas pendek-pendek. Oke abaikan! #intermezzo

Oke lanjut, nah kalau masalah teman juga, akan ada orang-orang yang bakal kita culik kupingnya untuk dipaksa mendengarkan cerita kehidupan beberapa saat lalu.

Misalnya gini, aq punya cerita tentang satu orang temen yang dikucilkan dalam pergaulan. Ciiieee, bukan dongeng ya. Its real man!! Hahahha. Sebut ajalah namanya itu, Ehem. Hampir semua temen-temennya yang aku kenal, semua bilang hal yang sama dengan alasan yang sama dan kejadian yang sama kalau mereka NGGAK SUKA sama si Ehem.

Mulailah membeo semua orang yang pernah menjadi temannya dia. Bercerita separuh krueng Aceh alasan mereka tidak menyukainya. Intinya itu masalah kan? Masalah bagaimana menemukan teman yang dikategorikan PW (posisi wuenak) untuk diajak berbagi. Masalah bagaimana si kawan itu ngak sadar kalau tingkah dia itu ngebuat orang lain ngak suka. Dan masalahnya terpecahkan karna ada kuping-kuping yang kita sewa untuk mendengarkan cerita kita.

*oke ini sesi curhat*
Masalah berikutnya rupanya terjadi juga sama aku. Nah si Ehem ini entah bagaimana asal muasalnya dia berteman sama aku, aku juga lupa. Hahaha. Jadi, ngak sampai satu bulan lah aku sama si Ehem itu berteman. Perlahan tapi pasti dia mulai menciptakan masalah-masalah dalam hidup aku.

Ibarat Fe2+ yang terkontaminasi dengan O2 hingga membuatnya mengalaminkorosi, begitulah aku. Perlahan, ketidaknyamanan itu ada. Terasa dan nyata. Diabaikan, tidak bisa. Satu waktu, ketika dia mulai meloncati ‘pagar pembatas’ dan mulai mencampuri urusan pribadi aku. Seketika itu berakhir. Dan itu masalah. Mulailah aku membeo kembali pada teman-teman yang pernah mengenalnya. Kupinjam semua kuping-kuping mereka. Kupaksa mereka mendengar apa kataku. Hasilnya? Jauhkan!

Nah. Itulah masalah-masalah semua orang. Dan bisa diadukan ke siapa saja. Namun, ada kalanya kita tidak tau harus mengadu kemana. Beberapa masalah yang bersifat pribadi tidak akan pernah diumbar secara sembarangan pada orang lain. Masalah yang menyangkut keluarga, harga diri, marwah diri tidak mungkin ada orng yang akan mengobralnya dengan diskon 75% di kaki lima.

Tentu mereka akan menutup rapat masalah itu. Saat tumpukan itu menggunung bak kain yang menunggu disetrika, dan tidak tau harua mengadu ke mana. Dendrit-dendrit yang menegang akan membentuk simpul dan bergetar hebat, hingga kita harus memijit kepala untuk menenangkannya.

Sebut sajalah, saat ini aku sedang dilanda masalah yang maha dahsyat. Membuatku ingin marah dan pergi dari sini. Membuatku muak dan semua yang tengah aku kerjakan ingin aku campakkan saja. Tapi aku tidak bisa meminta kuping-kupig mereka untuk kunyanyikan lagu bernama masalah ini.

Ketika kita tidak tau harus mengadu kemana, Allah swt menjadi tempat peraduan terakhir bagi hambaNya. Saat semua urat saraf menegang, saatnya kita menenangkannya dengan ucapan Tuhan, Al-Qur’an.

Advertisements

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s