Jam Dua Dini Hari

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali, tapi pria itu masih terpaku di depan laptop. Sisa tulisan di layar tujuh inci memaksanya untuk tetap tinggal. Padahal kasur empuk sudah memanggilnya dari tadi.

“Argh!!” teriaknya diiringi bunyi keras dari meja yang ditinjunya.

Sudah setengah jam berlalu, tapi jarinya belum juga menyentuh keyboard laptopnya. Tigapuluh menit dihabiskannya terpaku pada tulisan yang ada di layar laptopnya.

Mataku terpaku pada sesosok tubuh yang tergeletak sembarangan di tepi trotoar.

Teng..teng…teng..
Untuk kesekian kali jam dinding itu berdentang. Namun pria itu tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berada. Kalimat itu masih saja mengganggunya.

Tak ada yang peduli! Seakan tubuh itu tidak terlihat oleh mata para pejalan kaki yang sedari tadi lalu lalang melewati jalan setapak itu.

Aroma rokok hampir memenuhi ruangan itu. Matanya tetap tak bisa berpaling. Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Hufh,” Dia menghela nafas berat.

***

Matahari pagi perlahan masuk dari balik tirai jendela kamarnya. Namun pemilik kamar itu baru memejamkan matanya saat azan subuh berkumandang dari mesjid komplek.

“Angga bangun!” suara perempuan terdengar dari lantai bawah.

Senyap. Lelaki yang dipanggil Angga masih terbenam dalam selimut tebal ditengah tumpukan buku-buku di kamarnya.

“Angga!” teriaknya sekali lagi.

Langkah kaki tak sabar terdengar mendekati kamar Angga. Namun, pemilik kamar yang kini menyamai kapal karam itu masih ternyenyak. Mungkin gempa tidak bisa membangunkannya.

“Angga, bangun! Mau tidur sampai jam berapa kamu?” teriaknya sambil menggedor-gedor pintu.

“Angga!” teriaknya sekali lagi.

Kali ini suara gedoran pintu lebih besar dari dari suaranya. Mau tidak mau, lelaki itu menggeliat perlahan di kasurnya.

Teng…teng..teng…
Jam dinding di ruang tengah berdentang sepuluh kali. Perempuan itu sudah menyerah untuk membangunkan Angga. Kakinya menjauh dari pintu kamar lelaki itu, turun perlahan kembali ke ruang tengah.

***

Teng… Teng… Teng…
Jam dinding kembali berdentang dua kali. Lelaki itu masih terpaku di depan laptopnya.

Jari-jarinya mengetuk meja dengan tempo sedang. Mulutnya masih mengepulkan asap rokok yang menyergapnya sedari tadi. 

Aroma nyinyir tercium perlahan dari tubuh tak bergerak itu. Mata-mata mulai mencari asal aroma busuk yang mengganggu penciuman mereka.

Lelaki itu terus mengulir layar laptopnya.

Tak berapa lama, tubuh tak dikenali itu langsung diangkut oleh manusia berbaju putih. Dibungkus dalam kantong mayat dan dinaikkan dalam mobil putih bersirine.

Dari tangannya menggenggam.sebuah kertas ‘Maafkan aku Angga’

Advertisements

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s