Cintaku Mentok di Kamu

“Yaudah, lupain aja kenapa?” Tari sedikit berteriak Ochi. Sementara yang diteriakkan sama sekali tidak bersuara.

Tari membetulkan letak kacamatanya. Badannya hampir sepenuhnya beralih dari layar komputer. Dia memutar kursi kerjanya. Kini badannya lurus menghadap Ochi. Sedang yang dilihat hanya duduk merangkul lututnya. Mukanya dibenamkan diantaranya.

“Apalagi sih Chi? Kelakuan dia itu ngak pernah berubah tau! Ngak akan bisa!” kali ini Tari berusaha tidak berteriak pada sahabatnya itu.
Ochi masih diam. Dia tau apa yang akan dikatakan sahabatnya itu. Dia hafal karakter Tari jika marah.

“Dulu aja kamu iyain aku jadian sama dia. Sekarang?” suara serak untuk pertama kali terdengar setelah setengah jam mereka bersama.

“Dulu dan sekarang ceritanya beda!”

“Tapi perasaan itu ngak akan beda Tar. Perasaan kita itu ngak akan berubah,” ujarnya tak yakin.

Tari hanya geleng-geleng kepala melihat sikap teguh gadis berambut ikal yang berantakan itu. Sementara itu, Ochi menyangsikan apa yang dia ucapkan tadi.

Seminggu lalu, saat hujan turun dan dia harus merasakan sebagian hatinya teriris air hujan. Pikiran Ochi menerawang pada kejadian seminggu yang lalu, dengan hujan yang menjadi saksi atas kepedihan hatinya. Rinai hujan yang seharusnya menjadi senyumnya berubah menjadi malapetaka.

Sosok dengan tubuh tegap itu merangkul badan mungil disampingnya. Berteduh ditempat yang sama, tapi Ochi merasa dirinya tersekat dengan kaca yang membuatnya menghilang. Dia melihat bagaimana tangan hangat mendekap badan ringkih itu semakin kencang. Dan bagai menyaksikan drama kesayangannya, dia hanya diam. Sampai dua sosok itu menghilang dalam air hujan, dia terus diam

“Heh! Ngelamunin dia lagi?” jentikan jari Tari membuyarkan semuanya. Ochi merebahkan badannya ke kasur.

“Arg…” erangnya kesal. Ochi kesal dengam keadaannya sekarang. Kesal dengan Tari yang tidak mengerti keinginannya. Kesal dengan kenangan dibawah hujan yang masih terbayang-bayang di pelupuk matanya. Kesal dengan semuanya.

Empat hari lalu, suara celoteh manja didengarnya dari ujung telpon. Ingin rasanya dia mengambil handphone dari pemilik kulit putih itu dan langsung ditutupnya. Tapi dia tetap memenangkan logikanya daripada jeritan hatinya.

“Kesal! Kesal! Kesal!” Ochi meninju bantal berbentuk Winni The Pooh itu berkali-kali. Emosinya meluap jika membayangkan suara anak kecil yang baru mengenal cinta yang berkelekar pada lelaki itu.

Tiga hari yang lalu, sosok badan tegap itu kembali dia lihat. Bukan dengan si mungil ringkih yang didekapnya dalam hujan dulu. Tapi kini gadis berbando hijau dengan senyuman paling renyah menggandeng tangannya.

Tiga hari yang lalu, Tari hampir menjambak rambut ikal yang dibalut bando hijau itu. Tapi ditahannya. Sudut hatinya kembali menjerit.

“Udah! Kamu sama Riki aja. Buat apa sama cowok cassanova gitu. Sakit hati aja!” suara Tari menggema dalam hatinya. Gadis itu kembali ke layar komputernya, irama ketukan keyboard senada dengan mulutnya yang masih mencoba menyadarkan Ochi yang tergeletak layu di kasur.

“Masih ngak inget kejadian di museum dulu? Ngak inget gimana dia ngomong sama cewek itu? Lupa pas dia jaga stand di pameran? Lupa kalo…”

“Ingat Tar! Ingat! Aku ingat semua!” Ochi langsung bangun. Dia duduk dipinggir kasurnya.

“Aku ingat semua perlakuan dia. Tapi perasaan aku ngak bohong Tari,” kali ini dia bicara lebih lama. Ochi sengaja menekan kata perasaan dan bohong.

“Keras kepala,” gumam Tari sambil menghembus nafas berat. Dia menghentikan pekerjaannya. Berbalik pada Ochi yang tengah manyun sambil bersila.

Lima menit ruangan berukuran tiga kali empat itu berubah seperti kuburan sampai ringtone handphone Tari mengembalikan semuanya.

“Halo. Ya, ini siapa?” ujar Tari.

“Nih,” Tari menyerahkan handphonenya pada gadis di depannya. Alis mata Ochi naik pelan, menerka siapa yang menelpon mereka.

“Siapa?” suaranya hampir tersangkut di ujung tenggorokannya. Tari mengayunkan handphone di depan muka sahabatnya itu. Isyarat agar dia langsung menerima panggilan itu.

“Halo…” ujarnya pelan.

“Aku ngirim paket buat kamu!” ujar suara dari seberang tanpa basa-basi.

Tuut..tuut..tuut..
Sambungan telepon mati sebelum suara Ochi keluar. Dia masih memandang layar dengan tulisan unknow number yang tertulis di sana.

“Dia bilang apa?” pertanyaan Tari tenggelam dengan suara bel dari ruang tengah.

Dengan langkah cepat, Tari mengayunkan kakinya menuju pintu depan. Kos-kosan mereka kosong jika siang hari. Hanya Tari dan Ochi yang tidak pergi hari ini.

“Paket buat Ochi,” kata si pengantar. Tari langsung membubuhkan tanda tangannya pada bukti penerima. Setelah menyerahkan bukti itu sambil tersenyum terima kasih, dia lalu menuju ke kamar.

“Paket buat kamu,”

Tanpa berkata apapun, Ochi menyambar paket dari tangan Tari. Tak perlu lama, kertas pembungkus tadi sudah tergeletak di sekitar kasur.

Dua gadis itu mendapati sebuah kotak kecil yang dari lima lapis kertas pembungkus. Diatasnya terdapat sebuah kertas berwarna biru langit. Dilipat dua dan direkatkan dengan solatip.

Ochi mengambil kertas itu. Dibacanya isi surat itu sekilas.

“Tari… Gue ngak bisa lupa! Cinta gue udah mentok ke dia!” Ochi melompat memeluk Tari yang kaget dengan suaranya.

Mendung yang tadi bergelayut di mukanya langsung hilang diganti mentari. Dia kembali tersenyum dan mengamit Tari sambil memakan coklat dari kotak kecil tadi.

Sepintas Tari melihat tulisan di kertas yang dikirim bersama paket tadi.

Beginilah aku. Aku memang seorang cassanova. Tapi cintaku
mentok di kamu!

Advertisements

2 thoughts on “Cintaku Mentok di Kamu

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s