[Hari ke-2] Jadi Babu, Bertukang!

Inilah kisahku semalam di Malaysiaa…

Pada tau semua kan yah lagu itu? Iya itumah emang lagu jaman, saya aja dengarnya di bus saat study tour beberapa waktu yang lalu. Dan kayaknya, lagu itu bakalan saya rombak deh untuk pengalaman selama ‘pindah kampus’ ke sekolah ini. Dan kali ini, saya bakal nyeritain pengalaman di hari ke-2 dan ke-3. Sorry deh rapel, meskipun dibilang ngak konsisten, tapi yang penting ada usaha untuk menuliskan kisahku yang tak seberapa mana dan berhasil membuatku tegang urat selama berada di sekolah.

PPL itu emang diidentik menjadi BABU. waeyo? Yah karna emang udah takdirnya anak-anak PPL yang dikirim ke tiap-tiap sekolah akan diperlakukan dengan perlakuan sangat ‘istimewa’ oleh beberapa guru di sana. Di suruh angkat bangku, disuruh bersihin ruangan, disuruh nanam bunga, disuruh ngetok-ngetok bangku yang udah goyang. Mungkin besok bakalan disuruh ngepel kali ya. Hahahaha

Hari ke-2, alias Jum’at (1/3/2013) kami seperti biasa, mencoba ‘membunuh’ kebosanan dengan berbagai cara. Gosip, nonton film korea, ke kantin, dengan lagu dan sebagainya deh. Tapi memang yang paling ampuh itu adalah bergosip di kantin. Emang kantin itu ngak bakal lepas dari peredaran, hahahahaha. 

Dan tiba-tiba datanglah seorang guru yang aduhai masih cantik saya sih daripada dia *abaikan*. Langsung deh dengan gaya jalan yang agak gemulai-gemulai ngak jelas itu, dia berdiri depan pintu dan bilang “Tolong ya ambil bangku-bangku yang ada di ruangan kelas, bawa ke ruangan kalian, tolong di ketok bentar. Biar bagus lagi bangkunya, jadi ada bangku untuk kalian juga,”

Selesai ngomong itu, langsung dia pergi dengan indahnya. Saya kepengen nyakar-nyakar dinding dengan kalimat itu. Apa sekolah ini miskin banget yak, sampai ngak sanggup bayar tukang kayu untuk ngetok meja dan bangku yang udah goyang? Mesti gitu anak-anak PPL yang harusnya itu mengajar jadi beralih fungsi jadi tukang yang tak seberapa mana.

Dengan setengah hati, akhirnya anak-anak cewe ngambil bangku-bangku yang sudah ngak layak pakai lagi untuk dihijrahkan ke ruangan yang layaknya gudang itu. Lalu diperbaiki oleh guru PPL yang cowok sambil mengetok-getok biar dia kembali seperti sedia kala. Nah yang paling rajin itu Pak Rahmat, PPL dari Serambi Mekkah. Dia mengetok hampir semua bangku yang kami bawa ke ruangan. Kasian sih kalau ngeliat dia kerja gitu, meskipun dia cowok. Ngak etis banget lah ya, sekolah nyuruh anak PPL untuk kerja yang begituan. Secara kami dari kampus itu dikirim untuk magang dan uji coba mengajar di sekolah, bukan berubah mendadak jadi tukang.Tapi ini?

Kapan coba mau berubah ini sekolah. Trus kalau nilai uji kompetensi guru (UKG) di Aceh menduduki nilai kedua terendah di tingkat nasional, guru-gurunya pada nyalahin panitia ujian. Lah dia sendiri ngak pernah nyadar kalau dia ngak pernah bisa berkolaborasi dengan anak-anak PPL. Kami kan selalu dibekali dengan kurikulum terbaru, gimana cara buat RPP terbaru, metode pengajaran yang baru dan sebagainya. Ini bukannya bersahabat dan mencoba belajar kembali bersama anak-anak PPL, eh malah kami di plonco.

Kalau bahasa Aceh han ek ta pike

Advertisements

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s