Anak-Anak, Belajar Apa Kita Hari Ini?

“Anak-anak, belajar apa kita hari ini?”

Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut saya. Ya, sabtu kemarin (9/3/2013) adalah hari pertama saya mengajar. Ini memang mengajar! Bukan cuma mengikut guru pamong duduk di belakang kelas, tapi saya mengajar! Mengajar sama seperti guru-guru lain yang ada disekolah ini. Hahahahha

Sebenarnya, saya ngak diperbolehkan mengajar oleh kepala sekolah sebelum menyiapkan perangkat pembelajaran. Ya seperti RPP, model pembelajaran, media pembelajaran dan lain sebagainya. Tapi karna hari itu, guru pamong teman saya telah meninggalkan sekolah, alias dipindahtugaskan menajdi kepala sekolah SMP Bhayangkari, akhirnya saya terpaksa menggantikan beliau untuk masuk ke dua lokal. *kalau ketauan sepertinya saya bisa digorok dan dikeluarkan oleh kepala sekolah dan bidang pengajaran. Hahahahahaha*

Aksi nekat, saya dan teman saya masuk ke kelas cowok, X-3. Begitu masuk ke kelas usai mereka mengaji pagi, saya lihat masih banyak bangku yang kosong. “Kemana yang lain?” saya tanya sama mereka.

“Ngak tau Bu! Telat mungkin,” jawab mereka.

Akhirnya saya melihat dan menghitung berapa jumlah siswa yang hadir dalam kelas saat mereka memberi salam pada saya. Ada 15 orang dari 32 siswa di kelas itu yang ada di dalam kelas saat itu. Selebihnya? Mereka bermunculan saat saya hendak mengabsen mereka pagi itu. Ronde pertama, masuk 7 orang anak ke dalam kelas. Setelah menyalami saya, mereka mengambil posisi duduk di bangku masing-masing. Lalu saya mengabsen mereka satu persatu. Masih ada juga yang tidak menjawab panggilan saya.

“Mana dia?” tanya saya.

“Mungkin telat bu. Jangan dibuat alpa dulu bu ya” ujar mereka kompak.

Pertengahan mengabsen, masuk lagi anak-anak ronde kedua. Kali ini 3 orang anak. Tetap mereka menyalami kami yang ada di depan. Lalu ambil posisi di bangku sendiri. Ronde ketiga yang masuk usai saya mengabsen ada 4 orang lagi. Masih seperti tadi, mengucapkan salam dan menyalami saya dan Aida baru duduk di bangkunya.

“Ibu kenalan dulu kita” ujar salah satu murid saya, Erwin namanya. Dan semua kelas mengiyakan apa yang dikatakan Erwin.

“Oke, ibu akan perkenalkan diri. Tapi coba kalian diam sebentar. Kalau kalian ngak mau diam, ibu ngak akan kenalan,”  ujarku sambil senyum untuk menenangkan kelas yang hampir mirip pasar Aceh. Cuma bedanya, mereka ngak membuka lapak barang-barang dagangan atau buka salon di dalam kelas. Meskipun yang di sudut-sudut punya kesibukan masing-masing, menagih duit, mengobrol, jalan-jalan, dan kegiatan lain yang buat saya harus bilang WOW!

“Ee.. Coba diam dulu kalian, ibu ni mau perkenalan!” serunya yang langsung diikuti oleh keheningan kelas. Karna kelas sudah aman, aku dan Aidapun memperkenalkan diri kami. Nama, alamat, asal kuliah, daerah asal, sampai status dan nomor hape semua ditanyanya. Tanggal lahir juga ikut ditanya sama anak-anak ini. *ngelap keringatlah saya*

Tapi heningnya kelas ngak bertahan lama, usai perkenalan mereka langsung ribut lagi. Namanya juga kelas cowok, ada aja kelakuannya. Ada yang ngerap di belakang. Ada yang nge-beatbox, ada yang nagih duit, ada yang ngomong ngak berhenti-berhenti, ada yang ngelawak, pokoknya banyaklah kegiatan dikelas yang isinya 31 orang murid dan 2 orang guru PPL yang harus ngurut-ngurut dada.

Meski begitu, kami ngak bisa memahari mereka. Kenapa? Mereka makin dimarahi maka makin menjadi perbuatannya. Akhirnya aku -yang masih dengan senyum manis- menghampiri mereka. Memarahi mereka hanya membuat harga diri anak-anak PPL itu jatuh dimata mereka. Saya juga pernah menjadi pelajar empat tahun lalu. Dan saya paling tidak suka dengan guru praktikan yang sok tegas, masuk dengan muka garang, dan memarahi kami karna kami ribut.

Pengalaman SMA yang selalu mengusir dan mengerjai guru praktikan ngebuat saya jadi sadar, seperti apa tindakan saya terhadap mereka yang sedari tadi sibuk dengan kegiatan mereka sendiri, yang bandar duit lagi nagih duit, yang tidurpun langsung meronjok di kelas. Sayapun menanyakan apakah mereka suka dengan pelajaran Kimia atau tidak. Jawabannya sumpah membuatku terkejut. “Kami ngak suka buk pelajaran kimia kalau ngitung-ngitung. Tapi kalau pengertian-pengertian aja kami suka,” ujar salah seorang murid paling depan.

“Kenapa kalian ngak suka?”

“Ngak suka aja buk. Ngak enak kimia ama ibu tu ngajar” aku hanya mengangguk-angguk kepala saja pas dengar jawaban dari mereka. Jadinya aku tau gimana cara menghandle kelas yang memang mirip sama pasaraya itu. Asli deh. Mereka ngak mau lagi kalau dibuat kelompok, alasannya mereka bosan dan kalau kelompok pasti ribut.

Sama kejadian seperti kelas X-5, kelas yang isinya cewek itu juga bilang hal yang sama padaku. Mereka bosan belajar kimia. Padahal mereka pinter-pinter. Dua kelas yang aku ngajar hari itu cepat banget nangkap pelajarannya. Tapi sayangnya, materi mereka ketinggalan banget dengan kelas-kelas lainnya. Masih elektrolit. “Ibu itu baru dua kali masuk bu. Kemarin dia ngasih kami latihan soal, udah itu aja!” *aku jadi pengen garuk-garuk tembok deh dengan perkataan mereka, ya Allah ibu… kenapa bisa begitu?*

Jadilah aku mengulang kembali pengertian larutan elektrolit dan non elektrolit di dua kelas yang berbeda itu. Cuma di kelas X-5 aku udah mengajarkan tentang derajat ionisasi larutan elektrolit dan memberikan contoh soal. Mereka malah semangat banget pas dibilang mau praktikum minggu depan. Ya, moga aja diizinkan oleh guru pamongku untuk ngadain praktikum biar anak-anak itu ngak sumpek dengan mata pelajaran kimia.

NOTE: Bagi saya, mereka itu para pendengar yang baik. Tapi juga para pencari perhatian yang lincah. Mereka akan mendengarkan kata-kata kita jika kita mengatakan dengan lembut dan sopan tanpa perkataan kasar dan membentak. Untuk menenangkan mereka, saya membuat perjanjian di kelas X-3.

Ketika saya mengajar, maka mereka harus bisa diam dan mendengarkan apa yang saya jelaskan di depan. Nanti, pada saatnya mereka akan saya biarkan untuk berbicara sesuka hatinya. Ampuh, mereka yang semula tidak mau mendengar, akhirnya perlahan mau mendengar dan mencatat materi yang saya ajarkan. Meskipun sebagian lainnya masih tetap dengan kegiatan semula. Hahaha

Advertisements

7 thoughts on “Anak-Anak, Belajar Apa Kita Hari Ini?

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s