Jiwaku dan Cinta

Setiap orang punya perasaan. Jiwa yang berlubang. Dan hati yang bisa dibanting hingga hancur berkeping-keping. Semua orang punya itu!

Sudah hilang satu purnama, tapi perasaanku belum juga lepas. Masih terbelengu dengan kata-kata yang pernah dia ucapkan. Dulu! Sebuah kata yang mampu mengubah seorang raja menjadi budak, seorang waras kehilangan akal, seorang kaya nan kikir mau bederma. Hanya satu kata.

Satu kata, namun mampu mengubah segala yang kupunya. Membuat matahariku pergi, pelagiku hilang tak kembali. Aku? Mulai meraba-raba dalam bayangan hitam. Hilang sudah satu purnama, tapi matahari rasanya enggan terbit lagi di sini.

Rasanya, perlahan aku mulai terbiasa dalam gelap. Tidak hanya terbiasa, tapi menikmati tubuhku dibaluti oleh kegelapan pekat yang membungkusku erat. Karena tanpa cahaya, aku tidak perlu melihat kenyataan yang tidak ingin aku lihat. Tanpa cahaya, aku  bisa bersembunyi dari kenyataan yang terlihat jelas. Tanpa cahaya, aku bisa membaluri tubuhku yang penuh luka dengan air sedingin es.

Jiwaku tidak utuh seperti dulu. Jiwaku penuh tambalan-tambalan yang dijahit paksa untuk menutup lubang-lubang yang kian besar. Aku tidak tau kapan dia mulai membesar. Dulu lukanya hanya cukup diberikan sebuah plester untuk menambalnya. Namun sekarang? Segulung benang wol belum tentu bisa menutup kembali luka yang telah ditorehkan atas nama cinta.

Aku heran, sepertinya semua orang dibaluri oleh muntahan cinta yang tidak ada habisnya. Sampai saat ini aku masih penasaran, adakah orang yang bisa menghilangkan semua muntahan yang telah melekat pada dirinya? Entahlah! Aku tidak mengerti cara membersihkan muntahan cinta yang telah dia berikan untukku. Dan setelah membuang seluruh kotoran itu, dia pergi begitu saja. Tanpa membantuku membersihkan isi-isi perutnya yang terpaksa kucium dan meresap sedalam yang dipersilahkan oleh kulitku.

Sudah masuk purnama kedua, tapi hatiku masih belum tenang. Gemuruh badai masih terasa di sana. Mentari mulai muncul perlahan, sinarnya membuatku tau bahwa ada sebuah hal yang tidak pernah aku lihat dalam kegelapan. Aku mulai bisa membersihkan kotoran yang dimuntahkannya perlahan, meski belum seutuhnya bersih. Ternyata ada hati baru yang ditemukanya untuk membuang muntahan berikutnya. hati baru yang belum memiliki celah untuk retak. hati baru menggantikan serpihan hatiku yang bersaing dengan debu. Namun aku belum tenang. 

Advertisements

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s