[Berani Cerita #23] Rumah Pelangi

image from: gugel

 Kau suka pelangi?

Itu pertanyaan seseorang padaku saat aku tengah berteduh di bawah pohon asam kala hujan turun. Tentu saja aku mengangguk.

Aku sangat suka pelangi. Lengkungan berwarna-warni yang hadir usai rinai hujan itu sangat indah. Tujuh paduan warna tersebut adalah hadiah Tuhan setelah aku tidak bisa keluar bermain saat hujan, ini kata ibu pemilik panti asuhan.

Aku rasa perkataan ibu benar. Saat hujan turun, kami tidak bisa bermain. Ada saja celah air hujan untuk masuk ke rumah ini. Meskipun dana sumbangan tiap mendekati lebaran diberikan untuk rumah ini, tapi tetap saja tidak bisa menyumbat semua lubang yang datang silih berganti. Entah bantuan itu datang lagi.

“Rere, tolong bantu Bi Imah nyiapin makanan nak,” ujar ibu saat aku sedang merapikan tempat tidur si kembar Tika dan Tini. Aku mengangguk pelan. Tak lama aku bergabung dengan pengurus kami di dapur, menyiapkan makan malam.

“Rere, liat sepatu basket aku ngak?” tanya Redi.

“Bukannya ada di tempat biasa,” ujarku sambil terus memasak.

“Kalau ada, aku ngak bakal nanya Re,” katanya ketus sambil berlalu. Aku tersenyum melihat tingkah cowok itu, usianya menginjak 16 tahun, terpaut dua bulan dariku. Tapi soal kehilangan barang, dia tidak jauh beda dengan si kembar yang berusia 6 tahun.

“OIya, besok jangan lupa nonton ya! Aku ikutan main,” usai mengatakan itu dia langsung pergi. Aku tersenyum mengangguk.

Rendi memang tergila-gila basket sejak SMP. Dan tiap pertandingan dia pasti akan memaksaku untuk ikut, katanya kalau aku tidak datang maka kemungkinannya untuk menang dibawah 30 persen. Ada-ada saja, batinku.

“Re, ibu mana?” tanya Putra saat aku tengah menyiapkan makanan di meja makan. Putra memberi tanda ‘Ok’ setelah aku menunjuk ruangan ibu. Senyumnya merekah perlahan. Sepertinya lelaki tertua di rumah ini baru mendapatkan pekerjaan. Sejak berhasil memakai baju toga, dia berjanji untuk membantu biaya panti asuhan ini.

“Kita tidak mungkin mengharap bantuan zakat dan shadaqah selalu ibu,” begitu alasannya.

“Kak Rere, ntar malam jangan lupa ajarin aku fisika ya!” ujar Rika dibelakang Putra. Aku mengangguk pelan.

Mengajari anak dengan juara satu di SMP Bina Setia memang menguras pikirannya. Teringat malam kemarin lusa, saat Rika menyerahkan setumpuk soal fisika dari olympiade sebelumnya. Minta diajarin semua sekaligus.

“Hufh” ujarku sambil mengelap keringat.

Dibaliknya ada Rena dan Riko langsung menyerbu meja makan meski permen masih menanggup di dalam mulutnya.

“Ganti baju baru kalian boleh makan,” ujar Bi Imah pada mereka semua.

“Yaaah….”

***

Tak perlu kuceritakan lebih lanjut tentang mereka. Keluarga pelangiku. Karna berkenalan seperti itu sudah cukup tanpa harus mengurai alasan mengapa kami ditinggalkan di tempat tersebut.

Biarkan setumpuk alasan itu ikut hilang dibasuk rintik hujan, hingga rumah ini menjadi pelangi yang melindungi kami. Cukup hanya mengetahui kalau ibu pemilik panti adalah orangtua kami. Tak ada yang menggugat.

Advertisements

2 thoughts on “[Berani Cerita #23] Rumah Pelangi

  1. Aku suka ceritanya, Nurul. Analogi pelangi nyambung dengan kehidupan di dalam rumah yang demikian berwarna. Meski tokohnya banyak, tapi tiap karakter mendapat porsinya masing-masing dengan pas. Beberapa kesilapan tulis bisa diabaikan. Good job!

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s