Pangguni Utirem Tiruwil di Banda Aceh!

Hallo… Annyoeng Haseyo. Eh salah, kalau hari ini salamnya itu “Namaste!” karena cerita hari ini tentang upacara agama (iya kali yah) nama ritualnya itu adalah Pangguni Utirem Tiruwila. ^^ Oke, kita mulai aja ya!_DSC0311

Namaste!

Jadi hari ini aku mau ceritain tentang ritual keagamaan yang dilakukan sama komunitas India Tamil yang ada di Aceh. Walaupun Aceh itu mayoritasnya muslim, tapi ngak menutup kemungkinan bagi agama lain untuk menjalankan ibadahnya sendiri. Sekilas informasi, ada yang mengatakan bahwa ACEH itu adalah akronim dengan kepanjangan Arab, China, Eropa, Hindia. Itu adalah perpaduan dari berbagai etnis yang dulu pernah singgah di pusat perdagangan dunia berabad-abad silam yakni Selat Malaka (yah kalau sekarang transit pesawat dunia, pusat perdaganan dunia, juga rute persinggahan pesawat dunia di Asia Tenggara itu kan Singapure yah? Nah, berdasarkan literatur yang ada, dulu Aceh itu seperti Singapure sekarang lah. Sekarang aja ngak jelas gimananya. Hehehe).

Oke berlanjut lagi penjelasannya. Karena perpaduan budaya dari zaman dulu, sekarang di negeri Serambi Mekkah ini ada berbagai etnis, salah satunya Tionghoa juga India Tamil. Karena MInggu kemarin itu, 20 April 2014, ada upacara tahunan yang dibuat sama komunitas India Tamil, jadi kita skip dulu untuk pembahasan etnis China ya. Hehehe…

Menurut Pandita Shiwa Shri Jayabarkhy Gurukel, penganut Hindu di Aceh hingga saat ini berjumlah 45 orang dan semuanya itu berasal dari keturunan India Tamil. India Tamil itu sendiri kalau di negeri asalnya itu adalah India asli yang berada di kampung-kampung dan masih menjaga nilai tradisi dan budaya. Jadi, mereka belum ‘terkontaminasi’ dengan budaya luar atau percampuran budaya India modern. Ibarat kata, ini masih asli! Masih perawan :p (yaelah bahasanya mamen!)

Wanita keturunan India di Aceh

Wanita keturunan India di Aceh

Nah, untuk upacara keagamaan hari MInggu, 20 April 2014 kemarin, itu adalah upacara keagamaan dimana para penganutnya melepaskan nazar mereka. Pendeta bilang, cara melepas nazar itu beda-beda, ada dengan mencukur rambut, ada juga dengan menusuk anggota tubuhnya, ada juga yang lain. Dan ritual yang diadakan di Kuil Palani Andawa (kuilnya ada di tepi jalan, daerah yang masuk ke Kampung Jawa. Kalau dari jembatan penanyong itu belok kanan. -Berasa jadi GPS aja deh-) ini pun di mulai dari pagi hari.

Pagi-pagi, lilin-lilin dan dupa udah diatur sedemikian rupa di dalam kuil. Demikian juga dengan sesajen yang nantinya akan dipakai selama proses  upacara berlangsung. Dan akupun untuk pertama kali datang dan masuk ke Kuil Palani Andawa. Dari depan kuil aja bau-bau khas orang India udah tercium apalagi selama di dalam kuil. Pulang-pulang satu badan itu penuh dengan bau dupa. Jadi di dalam ada beberapa orang tengah menyiapkan alat-alat untuk prosesi pelepasan nazar, ada bunga-bunga, trus ada Tirunur dan Kunggunmam (kalau  semacam tepung yang nanti akan di tahuh di kening sebagai tanda pemberkatan. Kan ada di film-film India, orang taruh warna merah di kening, itulah dia!)

upacara awal di mulai. :D

upacara awal di mulai. 😀

Persiapan sesajen untuk upacara

Persiapan sesajen untuk upacara

Karena cita-cita aku dari dulu pengen pake itu, akhirnya usai wawancara kami bertiga, Aku, Kak Yayan, dan Kak Fitri minta dipakaikan Kungguman sama Pendetanya. Katanya sih ya, kalau dipakaikan itu untuk memberikan berkah dan menjauhkan dari marabahaya. Gitulah pokoknya. Kalau aku sih emang pengen pake, berasa gimana gitu! Hahahaha.

pake yang di kening juga. Finally.

Balik lagi ke Ritual Pangguni Utirem Tiruwila. Upacara ini diadakan tiap bulan Pangguni dalam penanggalan Tamil atau menurut penanggalan masehi itu Bulan April. Jadi tiap tahunnya orang-orang India membuat ritual ini. Kali ini, ada empat orang penganut Hindu yang akan membayar Nazarnya. Mereka dibawa ke Krueng Aceh, karena prosesi ritual itu akan berlangsung di situ. Dari kuil, mereka menggotong Dewa dan membawa semua sesajen ke tempat prosesi akan berlangsung. Dewanya sendiri digotong oleh empat orang penganut dan diiringi dengan penabuhan Risula (semacam rebana lah kalau istilah kita) dan diikuti oleh semua penganut yang ada.

Sampai di sana, Dewanya itu di taruh di tempat yang paling atas (karena kan ada turunan lagi sebelum sampai ke tepi sungai). Sejajar dengan dewa itulah ditaruh bahan-bahan untuk ritual dan sesajen diatur rapi serapi-rapinya. Ada pisang, kelapa, susu, daun-daun, dan macam-macamlah. Kata salah seorang wanita India (namanya lupa ditanyain kemarin) semua bahan-bahan ritual itu dibawa langsung dari Medan. Jadi ngak tau deh, apa bahannya ada di Aceh atau ngak, mungkin bahan-bahan dasar ada kali ya. Haha.


_DSC0192

_DSC0200

_DSC0204

Setentang dengan ditaruhnya Dewa mereka, dan lingkarannya itu adalah area suci. Jadi kita ngak boleh pakai alas kaki. Aku baru tau kemarin. Soalnya pas mau ngambil foto setentang dengan ‘Tuhannya’ mereka, diminta lepasin sendal. Baru ngeh abang-abang dan kakak wartawan yang ada di situ pada buka sendal. Karena penasaran aku tanyain aja sama bang Hotli, kenapa harus buka alas. Katanya biar ngak masuk roh dan ngak dapat bala. Sewaktu nanya sama Ibu India tadi, katanya biar ngak buat Tuhan murka dan ngak datang marabahaya dan musibah, jadi selama berada di dekat Dewa (setentang dan disampingnya atau pas di depannya) harus buka sendal. Malahan selama proses ritual pelepasan nazar aja, ada beberapa anak-anak dan warga Aceh yang ikut menonton diminta untuk tidak duduk atau berdiri di depan dan setentang dengan Dewa (jangan tanya nama dewanya apa!).

Karena mereka melepas nazar dengan nusuk-nusuk diri, jadi sebelum ditusuk dibacalah doa-doa dalam bahasa Tamil bagi empat orang tersebut. Aku baru tau, rupanya ada tanda orang yang akan melepas nazar. Mereka itu tidak memakai baju atasan, hanya kain berwarna kuning, trus saat didoakan mereka diberkai dan diikat tanda ditangan sebelah dengan seutas tali, terus mereka juga diberi tanda tiga garis di kening, lengan sebelah kanan dan lengan sebelah kiri. Itu artinya mereka sehari sebelumnya itu udah berpuasa dan siap melepaskan nazarnya.

_DSC0353

_DSC0325


_DSC0359

Dan mulailah proses tusuk-menusuk, tiga orang menusuk bibirnya. Ini tembus ya! Ditusuk sama Pendeta dari sebelah kiri tembus ke sebelah kanan. Debus kalah wak! Serius ini! Satu orang memakai rangka dari besi yang dikepalanya itu nanti ada dewa yang dihias dengan kerincing dan bulu merak. Setelah proses lebih kurang satu jam dengan disaksikan oleh masyarakat di daerah sekitar, keempat orang ini berjalan tanpa alas kaki keliling kota. Rutenya ngak terlalu jauh sih dari Jalan Cut Meutia-Teratai-Merduati dan berakhir di Kuil Palani Andawa di Keudah. Barulah di kuil itu semuanya di lepas lagi.

_DSC0361

Oia, lupa cerita. Sebelum dibawa ke Krueng Aceh, ada juga atraksi Barongsai di depan Kuil.Barongsai-nya mentel kali ini! Asik geol-geol pantatnya aja. Jadi pengen meluk Barongsai pas liat mereka atraksi, berasa liat boneka Teddy Bear joget-joget di jalan. Hahaha. Setelah ‘berjoget’ di depan kuil, mereka masuk ke kuil. Terus Pendetanya ngebacain doa gitu deh sambil kasih dupa yang udah di bakar. Hehehe.

_DSC0163-001

_DSC0147

Advertisements

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s