The Silent Island

Gonbanwa!

Udah lama juga sih ngak coret-coret di rumah ini. Biasanya ada aja yang mau dicurhati *ini rumah apa tong sampah ya?*  tau ah! Gelap! Hahaha

Kali ini aku bakal cerita perjalanan singkat ke pulau yang ngak ada nyamuknya. Ini beneran, itu pulau ngak ada nyamuk seekorpun. Malahan aku, dini, dan Fuadi yang duduk di dermaga sampai jam 1 dini haripun tetap aja asik cerita-cerita tapi ngak pake garuk-garuk kulit kaki dan tangan atau tepuk-tepuk nyamuk biar ngak digangguin. Hehehe..

senja di Bunta

 

Ini sebenarnya cuma trip singkat untuk ngilangin galau. Jadi hari Sabtu siang (10/4) kami bersebelas orang memutuskan untuk liburan ke pulau Bunta (itu loh nama pulaunya). Pulau ini berdekatan dengan pulau Aceh, Pulau Batee, dan Pulau Nasi. Kalau dilihat dari peta, pulau Bunta ini hampir sejajar dengan Sabang, tapi agak lebih ke depan lagi dari Sabang (kalau di hp nya kak Ika malah lokasinya ke detect Sabang, bukan lagi Aceh Besar). Meskipun demikian, pulau ini masih termasuk kawasan Peukan Bada, Aceh Besar. Jadi warga di pulau ini ya sekecamatan dengan warga di Peukan Bada, meskipun rentangnya jauh dan harus pake boat kalau mau ke sana.

Jadilah kami pergi ke sana dengan menyewa boat nelayan via Peukan Bada menyebrang langsung ke pulau. Waktu tempuhnya sih lumayan, hanya sekitar satu jam perjalanan. Berhubung aku minum obat anti mabuk, jadilah selama perjalanan pergi itu aku ketiduran di atas boat yang hanya bisa menampung maksimal 15 orang saja. Kawan-kawan yang lain pada heran dan ketawa gitu liat mataku udah ngak sanggup kebuka lagi. Kok ada gitu orang yang tidur tenang sambil duduk di atas boat nelayan dengan gelombang yang ngak tenang-tenang amat dan nyebrang pulau, gitu pasti orang mikirnya. Dan itulah yang terjadi selama perjalanan sodara-sodara! hehe. Ajaib kan aku?! *bangga*

Walaupun gelombangnya ngak gede-gede amat, tapi ditengah lau berdekatan dengan Pulau Batee, ada sebuah pusaran dimana arusnya itu merupakan arus balik, jadi nelayan yang ngebawa boatnya harus agak merapat ke arah pulau lain (ngak tau nama pulaunya) supaya ngak boat ngak terguncang karena arus putar itu. Tapi, pas awal pergi, yang bawa boatnya malah mau mepet-mepet ke arus itu, terguncanglah boat kami. Untungnya ngak dekat kali, jadi cuma kena bias guncangan aja. Aku yang lagi tidur jadi kebangun karena jatuh di dalam boat. *coba aku di tepi duduknya, bisa nyemplung deh! x_x*

Setelah satu jam diombang-ambing sama ombak, akhirnya sampai juga deh ke Pulau yang ngak ada penghuninya. Ini beneran ngak ada orang di sini. Yang ada cuma penjaga mercusuar sama nelayan atau orang boat yang ngantar orang. *yah namanya orang juga kan?-_-“* Paling banyak itu ya Babi, dan anak babi warna loreng-loreng *aku baru tau kalau anak babi itu warnanya loreng-loreng, dikasih tau sama bapak yang tinggal di pulau ini. Dia cerita pas kami lagi ngumpul-ngumpul duduk di dermaga sambil malam mingguan. Jadi anak babi imut warna pink yang ada di kartun ngak ada di dunia nyata, dan kamipun kuciwa*

 

welcome to Bunta Island

welcome to Bunta Island

Pulau bunta ini dulunya dihuni oleh 40 jiwa, tapi setelah tsunami semua masyarakat di sini pindah ke Peukan Bada karena tidak ada akses pendidikan di sini. Saat tsunami terjadi, kata Bang Adi Guide sekaligus Ketua Pemuda di Peukan Bada, semua warga yang bermukim di pulau ini selamat semua. Mereka lari ke gunung pas ngeliat gelombang air yang naik. Makanya sekarang ngak ada yang tinggal di Pulau Bunta bukan karena orang-orang disini pada meninggal dunia, tapi mereka berhijrah untuk kehidupan yang lebih baik. hehehe.

Yang asiknya di pulau bunta ini sekali pantainya yang cantik dengan gradasi warna laut biru bercampur hijau toska. Ada banyak kerang warna-warni yang bisa didapat dengan mudah di pinggir pantai tanpa harus dicari lama-lama, alias sepanjang garis pantai itu berhambur kerang, keong, bahkan terumbu karang yang berwarna-warni dan berwarna putih. Tapi kalau buat yang hobi mandi laut, aku ngak merekomendasikan mandi di pulau ini. Apalagi kalau sedang musim angin barat, Aku, Dini, kak Fit, dan kak Ika yang mau mandi aja terpaksa cuma berbasah-basahan ria aja di pinggir pantai. Soalnya walaupun cuma duduk di pinggir pantai, pecahan ombaknya udah buat kita berasa mandi laut. Kalau nekat juga mau mandi, ya bersiap-siaplah ditarik oleh ombak. Tarikannya kuat men! Kalah ombak di Lampuuk. hehehe

 

(bersambung)

Advertisements

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s