Melihat Uhud Dari Bukit Pemanah

Sebenarnya ini catatan saat pergi umrah dahulu. Pas umrah yang kedua kalinya,kami semua di bawa ke bukit Uhud atau Jabal Uhud. Tempat inilah yang menjadi lokasi peperangan kedua umat Islam dengan kaum Musyirikin dulu. Setelah orang-orang kafir kalah dalam peperangan pertama di Badar, daerah dekat Kota Madinah dan kota Makkah dulu, tahun 2 Hijriah.

suasana di sekitar bukit uhud

suasana di sekitar bukit uhud

Pada tahun ketiga Hijriah, orang kafir Quraisy menyatakan perang kembali kepada Rasulullah saw. Di tahun ini, lokasi perang berada di Bukit Uhud. Tempat rombongan umrah Namirah dan aku kunjungi. Dari jauh, bukit uhud tampak sebagai bebukitan dengan warna merah bata menyala. Pun matahari tak terlalu panas pagi menjelang siang hari itu, namun bukit yang terhampar sepanjang tujuh kilometer tersebut telihat jelas berwarna merah, meski saat dilihat dari dekat, warnanya berubah menjadi warna aslinya, agak kecoklatan bercampur merah.

Kata ustad pembimbing -dan aku lupa namanya itu siapa- warna merah itu adalah refleksi darah para syuhada yang meninggal karena perang. Sejarah menintakan noda hitam nan pahit. Bukit Uhud menjadi saksi bagaimana kaum muslimin harus menerima kenyataan bahwa mereka kalah perang. Bahwa dendam orang kafir tampak berhasil dilampiaskan setelah sebelumnya mereka kalah dalam peperangan pertama. Bahwa seorang perempuan telah mengunyah lahap hati orang paling dicintai Rasulullah saw, Hamzah bin Abdul Muthalib di tempat itu.

Jika bercerita Uhud, selain berbincang tentang nestafa, aku juga akan berbicara strategi perang yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Tidak hanya Uhud yang melegenda saat itu. Meski dia menjadi banteng alam bagi kaum muslimin saat menyambut datangnya pasukan berkuda dari pihak musuh, namun ada satu tempat yang dipakai oleh tim pemanah yang dibentuk Nabi Muhammad saw. Ditempatkan untuk menghalau langsung pasukan berkuda yang datang. Sementara yang lainnya menghadang tentara musyrik yang datang dari balik bukit itu.

Bila boleh disalahkan, maka tim pemanahlah yang menjadi kunci kekalahan perang kala itu. Rasulullah saw sudah memerintahkan agar mereka tetap berada di tempatnya, bukit pemanah, dalam kondisi apapun. Bahkan jika kaum Muslimin menang sekalipun, tak ada yang boleh meninggalkan bukit pemanah.

Setelah pasukan berkuda yang dipimpin Khalid bin Walid mundur karena dihujani panah oleh tim bentukan Rasul, otomatis pasukan musyrikin lainnya juga ikut menarik diri dari medan perang. Dan kaum Muslim kembali menang. Harta rampasan perang tumpah ruah di tempat tersebut. Berlomba-lombalah orang-orang Islam mengumpulkan harta kekayaan. Tak diidahkan lagi perintah Nabi Allah. Godaan dunia ternyata lebih hebat. Saat tim ini turun dari bukit pemanah, sibuk mengutip satu-persatu harga kekayaan yang ditinggalkan pasukan Abu Sufyan, maka kembalilah Khalid bin Walid bersama pasukannya. Menebas satu persatu tubuh kaum muslim yang tak sempat kembali ke posisi dan barisannya lagi.

Bukit Pemanah

Bukit Pemanah

Pemandangan dari atas bukit pemanah

Pemandangan dari atas bukit pemanah

Saat kami kesana, daerah ini menjadi salah satu tempat yang dikunjungi dalam City Tour Umrah. Mengingat kembali sejarah. Di tengah tempat tersebut dibangunlah sebuah tembok batu bersemen yang dicat berwarna kuning pudar dan hijau. Di sanalah tempat para syuhada dikuburkan, termasuk Hamzah paman Nabi.

Tak berapa jauh dari tempat itu, terdapatlah bukit pemanah. Aku ikut mendaki ke sana. Tak terlalu terjal hingga butuh waktu sekitar 10 menit untuk naik kesana. Melihat bukit Uhud yang menanjab gagah di kota ini. Di bawahnya, pemandangan bak pasar juga ikut terlihat. Penduduk kota Madinah mengadu nasib dengan berjualan di sana. Bermacam-macam yang dijualnya, mulai dari kacang arab, sauvenir, bubuk pacar arab, celak arab, minyak wangi, dan lain-lain. Macam-macam.

Ada juga yang mengemis, minta dikasihani oleh para jemaah umrah. Mulai dari ibu-ibu hingga anak-anak. Kadang juga memaksa. Tapi kalau tidak diperdulikan, dia akan pergi sendiri nantinya. Ada juga tukang foto, tak jauh bedalah seperti Mesjid Raya, menawarkan jasa foto langsung jadi alias polaroid. Harganya 10 Riyal. Tapi cukup bilang satu kali, kalau tidak maka akan dijepret hingga tiga kali. 30 riyal juga akhirnya. 😀

Akhirnya punya satu foto polaroid di bukit pemanah

Akhirnya punya satu foto polaroid di bukit pemanah

Advertisements

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s