#Prompt 54: Aku Menyerah

Langit tak lagi ramah saat dia pergi. Tapi aku tak mau berkomentar lagi tentang apapun. Biarlah! Hatiku sudah terlalu lelah untuk remeh-temeh seperti sakit hati atau menangis sendiri tiap malam.

Sebuah tepukan hangat dari Tika membuatku terhenyak. Setelah 30 menit ditemani secangkir espresso akhirnya yang aku tunggu datang juga. Aku tersenyum. Semanis senyuman yang pernah kuberikan pada seseorang yang telah pergi.

“Kurasa sebaiknya kau tidak perlu tahu tentang dia. Percayalah, kurasa betul-betul jangan,” ujarnya pelan setelah melihat setitik cahaya pengharapan di mataku.

“Kenapa?” aku tau pertanyaan basi seperti itu tak seharusnya keluar dari mulutku. Karna jawabannya sudah ada. Ibarat film yang terus-terus diputar, hal yang sama.

Tika menghembuskan nafas berat mendengar pertanyaanku. Dia menggeleng kepala pelan, sekilas aku melihat matanya melirik keluar. Penasaran, kuputar kepalaku mengikuti arah mata sahabatku itu.

Dia di sana! Lelaki itu ada di sana. Binar harapan dimataku dipaksa meredup saat itu juga. Tepat disaat sebuah tangan mungil menggenggam hangat tangannya. Senyum seseorang di sampingnya lebih merekah dari senyum wanita manapun yang pernah jatuh cinta. Berbeda dengan sinar mataku saat ini, hampir hilang.

“Arya?” gumam Tika hampir tak lagi terdengar. Kepalaku sendiri penuh dengan bisikan-bisikan yang tak ingin kuhiraukan lagi.

Lelaki itu di sana! Bersama seseorang yang aku kenal. Sangat kukenal! Tika tak perlu mengatakan apapun untuk menghidupkanku lagi. Karna aku sudah terbiasa mati untuk seseorang. Seseorang yang tak pernah menghiraukanku.

“Kurasa aku tak perlu tahu lagi tentang dia,” ungkapku pelan namun hanya bersisa luka di sana. Aku menyerah! Seperti yang Tika katakan berulang kali. Seperti yang Tika mau selama ini, seperti yang Tika minta selama ini.

 

Flash Fiction 271 kata, diikuti untuk prompt #54 MFF

Advertisements

8 thoughts on “#Prompt 54: Aku Menyerah

  1. ada beberapa kata tak baku (yang diulang-ulang) dalam cerita ini : karna dan tau. | dari penjabaran penulis tertangkap maksud bahwa si perempuan ini sudah berusaha demikian keras untuk mendapat hati sang pria, tapi dia terus saja gagal.

    ada yang mengganjal nih, Nyak. kalimat Tika yang bertanya pendek ,”Arya?” bikin bingung. bukankah dia yang menyarankan agar ‘aku’ tak bertanya tentang ‘dia’? kenapa justru dia seolah baru tahu jika ‘dia’ yang dimaksud ‘aku’ adalah Arya? 🙂

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s