Cinta Mati!

“Dia udah cinta mati kali sama cewek itu, susah dek!” itu yang aku dengar hari ini. Bukan curhatan orang, tapi jawaban atas hasil menyampah aku tengah malam ini. Ya mau gimana lagi, harus terima nasib kan kalau (lagi-lagi) cinta aku itu harus bertepuk sebelah tangan atau kandas diterjang gelombang Samudra Hindia.

Kalau aku sedikit bebal, aku akan bertanya, seberapa lama sih orang akan tahan untuk ngomong cinta mati sama seseorang? Selama apa sih dia akan nunggu orang tersebut balik lagi sama dia? Atau sampai kapan sih dia masih bertahan dengan ego dan khayalan dia untuk tetap nunggu karena alasan cinta mati? Atau cinta mati itu bisa berlaku berapa lama sih?

Itu pertanyaan yang sekarang ini terngiang terus di kepala aku. Sedikit bebal, antara masih menaruh harapan dan memperjuangkan cinta atau memilih untuk berhenti sampai di situ juga dengan segala kenyataan yang ada. Dia mau ngomong cinta mati sama cewek itu sampai kapan? aku membatin dalam hati.

Ya, aku pernah bilang cinta mati sama seseorang lima tahun yang lalu. Setelah kami putus, cuma aku yang masih bertahan dengan alasan cinta mati sama sang mantan. Masih setia untuk menunggu, masih berhaarp untuk kembali, dan masih dengan bebal mengejar-ngejar dia. Bolehlah jika semua orang mengatakan aku fakir cinta atau pengemis cinta. Karena dalam kepalaku hanya ada satu orang, dan orang itu dengan semena-menanya Seperti itulah kira-kira.

Dan kali ini aku bertemu dengan orang yang hampir sama literaturnya denganku. Hampir sama history browse nya dengan aku. Lalu aku jatuh cinta. Inilah salahnya aku disini. Karena dia masih cinta mati sama mantannya. Sampai aku tidak pernah dipandang sebelah matapun olehnya. Untuk berteman oke, tapi untuk menjadi seseorang yang spesial, itu bukan aku.

Dipaksapun tidak akan mungkin dan tidak akan pernah bisa. Kalaupun mau dipaksa, tidak baik jadinya. Maka aku putuskan untuk menyerah. Meskipun aku harus mengakui, aku tidak berusaha secara maksimal dalam melakukan pendekatan. Tapi buat apa lagi kalau dia sendiri sudah membangun tembok pemisah berupa benteng tinggi. Mau ditabrak? Yang ada sakit sendiri jadinya. Lebih baik pergi, atau sekedar untuk berteduh saja di depan pintu gerbang. Mau minta masuk juga tidak pernah dipersilahkan, karena alasan cinta mati. 🙂

Advertisements

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s