Kami Ini Bukan Dukun Lho!

Ini cerita tentang sesorang, yang menahan sejumput amarah hingga dia tumbuh sebesar gunung. Disimpannya hingga membusuk di dasar hatinya.

Marahnya itu pada temannya. Disimpannya di tempat penyimpanan terbaik di hatinya. Bergumpal-gumpal dalam darahnya. Hingga menyatu dalam dirinya, menjadi orang kedua. Bayangannya adalah amarahnya.

Tidak ada yang membuat saluran untuk mengeluarkan amarah lelaki itu. Tidak pula temannya. Karena tidak ada yang tau bahwa dia tengah memendam amarah.

Bagaimana orang lain akan tau kalau dia sedang kesal? Apa semua orang memegang bola kristal layak perempuan gipsi yang tengah meramal? Apa manusia itu sehebat Tuhan yang bisa tau isi hati manusia? Apa harus menjadi dukun agar dia bisa mengeja kata yang dibisikkan hati?

Ada yang berkata padaku petang ini, kita ini bukan dukun hingga bisa tau isi hati seseorang seutuhnya. Kita juga manusia, sama seperti orang itu.

Ada kutipan yang bilang, kalau ingin sesuatu maka minta! Kalau mengganggu katakan! kalau ada keluhan sampaikan! Orang itu bukan Tuhan yang tau apa yang terbersit di hati.

Jadi jangan tambah dendam saat orang yang tidak kamu suka tidak merasa kalau dia tengah dimusuhi. Sedangkan sikapmu masih saja seperti biasa, padahal kamu sedang marah. Jadi siapa yang tengah merugi? Dirimu sendiri. Kamu yang akan sakit saat amarah di hatimu tidak dikeluarkan. Dia akan terus mendesak masuk hingga ke tulang rusukmu, mengotori hatimu perlahan. Dan sakitnya akan terus menganga saat orang yang kamu benci malah tidak tahu kamu sedang kesal padanya.

Mengapa tidak katakan, “saya marah sama kamu. Kamu salah! Bisa tidak perbaiki sikapmu!”

Itu kata-kata paling simple yang bisa dikatakan saat kita tengah marah. Katakan kamu marah. Bilang bahwa kamu tidak suka. Keluarkan uneg-uneg yang ada di hatimu!

Jangan hanya bisa memaki, saat kamu lihat dia yang kamu benci tertawa. Jangan tambah dendam saat dia belum minta maaf. Karna dia tidak tau, atau lupa kalau pernah buat salah sama kamu. Diamkan dua hari, lalu katakan pada hari ketiga kamu marah sama dia. Bukankah itu akan membasuh api di jiwamu?

Terlalu banyak masalah yang dipikul manusia, apalagi saat dia bertambah dewasa, hingga dia tidak akan sanggup mengurus urusan orang lain. Bahkan tidak akan peduli pada urusan orang lain saat urusannya belum selesai. Maka katakan! kami bukan dukun atau paranormal bagi kalian!

NB: ini sebenarnya postingan lama, cuma karena masih banyak orang yang merasa ingin ‘diterawang’ alias masih banyak yang ngasih kode-kode, jadi ini diposting ulang. 😀 Selamat membaca.

Advertisements

4 thoughts on “Kami Ini Bukan Dukun Lho!

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s