Barang Bekas

“Dibalik penyesalan seorang wanita, pasti ada pria bejat dimasa lalunya”

Tiba-tiba pengen banget ngubek-ngubek lagi blognya kak Febri, orang yang ngak sengaja jadi temen akibat komen-komenan di blog. Yah mungkin itulah gunanya blog, menggantikan surat pena yang dulu harus menggunakan jasa pos dan perangko. Sebelum nanya panjang lebar, aku teringat sebuah tulisan kak Feb beberapa bulan lalu. Judulnya Fatal. Tulisan sederhana tentang sebuah pengungkapan hal yang lumrah dilakukan sama anak-anak muda sekarang.

Mungkin lumrah bagi beberapa orang yang pacaran. Pas kebetulan aku nanya sama beberapa temanku, mereka juga ngasih jawaban yang hampir sama kayak Kek Febri cerita di blog dia. Bahwa lumrah orang pacaran itu untuk berhubungan sex sebelum nikah yang katanya itu karena sayang dan cinta. Entah, tapi aku tidak sepenuhnya percaya. Kalau kata Kak Feb, pacaran yang ‘rusak’.

Bagi aku dengan latar keluarga cukup agamais, yah walaupun aku ngak pernah dijebloskan ke pesantren, tapi masih ngertilah aturan-aturan Tuhan yang sudah digariskan dalam hidup manusia. Meskipun aku harus mengakui kalau aku termasuk orang yang tidak suka diatur dan tak pernah taat peraturan yang dibuat sama manusia, tapi aku masih tidak bisa untuk keluar dari koridor yang ada. Karena ada konsekuensi yang besar kalau aturan Tuhan yang dilanggar. Itu yang sudah mengakar di kepalaku. Termasuk hubungan suami istri di luar nikah, kalau bahasa kerennya Free sex, kalau kata agama Zina.

Tapi yang aku tahu dan aku yakini, para perempuan yang terbiasa dengan hal-hal seperti itu sama saja dengan barang bekas yang bisa dengan mudah berpindah tangan. Seperti HP yang kita beli tapi bekas orang pakai, belum tentu itu mulus 100% seperti yang baru. Ngak ada jaminan! Begitulah cewek menurut aku. Bukan berarti aku merendahkan para cewek-cewek lain dengan ungkapan seperti itu. Tapi itu yang ada di otak aku selama ini. Dalam artian para perempuan itu tidak bisa menjaga yang namanya harga diri. Walaupun kalau kata pacarnya, “Ya ngak masalah. kan aku ngelakuin ini karena kamu pacar aku,”

Aku tidak percaya kalimat seperti itu. Karena tidak ada jaminan 100% bahwa setelah diajak tidur, perempuan tersebut akan tetap dinikahi. Bukan aku sok tua dan udah berpengalaman dengan hal-hal seperti ini, tapi aku bercermin pada kejadian tidak mengenakkan yang dialami oleh sahabatku sendiri.

Dia menyesal karena telah merusak hidupnya sendiri. Hamil dan akhirnya menikah, tapi tidak digubris oleh suami sendiri alias ditelantarkan bukannya sama saja dengan dicampakkan? Iya punya buku nikah, tapi dalam kondisi terpaksa dan tiba-tiba. Dan dia bercita-cita pernikahannya itu bisa diumumkan seperti teman-teman lain yang menikah dengan wajah tersenyum cerah tidak usah ditekuk. Tapi apa daya, semua sudah kejadian.

Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah pelanggaran terhadap aturan Tuhan. Bagi sebagian orang mungkin hal biasa, tapi bagi sebagian yang lainnya itu adalah hal yang tidak bisa dinegosiasikan. Aku setuju dengan ungkapan yang dikatakan kak Febri. Ketika wanita menyesal, maka ada laki-laki bejat di belakangnya.

Bagi aku dan juga Kak Febri, diskusi tengah malam buta itu bisa dibilang sebuah pencerahan. Bagaimana harusnya perempuan bisa memilih untuk tidak menjadi barang bekas, dan lelaki mengerti ketika dikatakan tidak.

ps: Kak Febri itu cowok ya. :p kepoin aja blognya. hahahahahaha

Advertisements

4 thoughts on “Barang Bekas

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s