Doa

Dari semua kemungkinan yang ada, Aku yakin perkataan adalah doa. Terlebih saat diucapkan dengan sangat mantap dan yakin, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Tuhan akan mengabulkannya.

Sewaktu masih duduk di semester dua, saya dengan yakin mengatakan bahwa saya tidak ingin lulus sebelum institusi tempat saya belajar berubah statusnya menjadi universitas. Dan sampai semester 11 ini, aku juga belum tamat. Yah, tinggal 1 semester lagi untuk KKN dan sidang skripsi saja. Hahaha…

Jadilah aku manyun-manyun aja pas Aulia dan Muhammad, dua teman akrab yang kadang-kadang suka bikin kesal itu berdoa setiap kami ngumpul bersama.

“Rul, udah. Qe itu cuma berjodoh sama Arya,” kata Aulia.

“Ngak ada. Dia udah punya pacar,” aku jawab dengan membeberkan fakta-fakta yang telah ada. Emang aku ngak mau lagi dengan dia. Hahaha

“Ah, mana ada tu. Nanti putus lagi dia. Balekan lagi sama qe,” sambar Muhammad. Aku manyun, kesel sama teman yang satu itu keras kali dan ngotot kali aku harus jadian lagi sama Arya.

“Iya, kan jodoh kamu lagi dipinjem bentar sama orang. Nanti juga balik lagi,” dan jawaban Aulia berhasil buat aku garuk-garuk dinding. Barang kali ol dipinjem. Heran deh ngeliat dua kawan ini, entah bagaimana ceritanya, entah bagaimana situasinya, riwayat perjodohan aku sama Arya masih akan terus dibahas dalam pertemuan kami. Jadi agenda rutin gitu.

Dan aku kembali berdoa agar itu tidak terjadi. Ya, semoga semua perkataan mereka itu tidak menjadi kenyataan dan doa yang terkabul. Karena memang itu tidak mungkin lagi. Hahaha…

Aku masih berpikir, entah benar atau tidak, setiap kita datang ke acara nikahan orang katanya kalau sang pengantin baru yang mendoakan hubungan kita sama pacar langgeng, katanya sih terkabul. Makanya aku banyak-banyak minta doa sama pengantin baru dan calon pengantin. Minta didoain agar aku dan Bang Taufik bisa langgeng dan bisa nikah juga nantinya. Caileh, anak gadis minta nikah. Hahahahhahaha. *Diketawain sama orang sekampung*.

Karena dari itulah aku sangat berhati-hati dengan ucapan. Karena apapun yang telah keluar ngak pernah bisa ditarik balik. Aku bukan orang yang berpacaran untuk main-main. Meskipun dalam kondisi dan situasi aku yang masih suka jalan-jalan, masih suka hura-hura, masih suka loncat-loncat, tapi ada satu sisi dari hati yang juga punya rasa iri pas ngeliat timeline Facebook isinya foto akad nikah sama resepsi pernikahan. Belum lagi yang tiap bentar ngabarin mau punya anak. =…..=

Kata-kata yang paling aku hindari saat pacaran adalah minta putus. Minta putus gampang, tapi sewaktu balikan lagi habis putus (menurutku dan hasil survei yang melibatkan orang-orang seusiaku dan lebih tua beberapa tahun) rasanya itu tidak sama dengan saat masih baik-baik. Ada sisi hati yang sakit dan kadang tidak mau untuk disakiti lagi. Maka dari itu, bagi yang pacaran dan sering ngambek-ngambek, marah-marah, saran aku sih kalau lagi marah diam aja dulu. biar ngak kelanjur ngomong yang ngak-ngak. Karena apa yang udah dikeluarkan ngak pernah bisa ditarik lagi. ^^

Advertisements

2 thoughts on “Doa

  1. Betul tuh, kalo udah putus terus balikan lagi itu rasanya beda. Kayak ada ruang hati yang kosong karena ditinggal pergi, tapi saat dia kembali ruang itu gak diisi sepenuhnya lagi.
    Duh, gua sotoy bgt nih. haha

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s