Melukis Tsunami

Sebentar lagi tanggal 26 Desember, dan itu artinya sudah hampir satu dekade yang lalu Aceh bangkit setelah diamuk gelombang tsunami tahun 2014 yang lalu. Kata pacar merangkap partner kerja, peringatan 10 tahun tsunami kali ini menjadi peringatan terakhir bagi dunia internasional. Jadi bisa dipastikan 100 negara donor yang pernah membantu Aceh dulu akan hadir dalam peringatan kali ini.

Photo by: Taufik Kelana

Ngak cuma delegasi dari luar negeri, tapi wartawan asing juga ikut meliput kisah-kisah masyarakat yang dulu pernah menjadi korban tsunami, fotografer AP, EPA, NHK Jepang, Assosiated Press TV News Amerika Serikat, pokoknya masih banyak lah wartawan luar yang tengah di data oleh bagian Humas Pemerintah Aceh biar dapat Press Pass yang nantinya menjadi ID bagi mereka untuk bisa meliput. Kali ini juga dijadwalkan Wakil Presiden Jusuf Kalla akan hadir di acara nanti. Pasti deh banyak banget pengamanan. Belum lagi harus ngurus izin khusus meliput pejabat negara, bolak-balik dicek di penjagaan. =..=

Tapi yang paling menarik bagi wartawan asing dan media nasional untuk diberitakan bukan hanya seremonial pada tanggal 26 Desember nanti, tapi mereka juga menggali apa cerita menarik yang bisa disampaikan sebagai pembelajaran bagi masyarakat lain yang menonton. Aceh mungkin sudah berbenah, sudah lebih baik dari tahun-tahun awal setelah tsunami menyapu hampir semua daratannya. Tapi ada berbagai kenangan dan cerita yang masih tersimpan dari kejadian ini.

Saat aku dan pacar sekaligus partner kerja liputan, ada seorang pelukis asal jogjakarta yang mengangkat kembali kenangan itu lewat lukisannya. Namanya Bambang Trysetyadi. Dia menceritakan kembali  daerah yang kini dia diami sejak tahun 2011. Desa Lambada Lhok, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar menurutnya sama sekali tidak pernah dipublish dalam peringatan tsunami selama sembilan tahun terakhir. Memang hampir sebagian besar peringatan tsunami diadakan di Lampuuk, Lhoknga, serta Ulele Lheu. Padahal kawasan Lambada Lhok (dekat Kajhu) juga termasuk salah satu daerah yang termasuk ground zero setelah tsunami.

lukisan tentang daerah Lambada Lhok sebelum tsunami. Lukisan ini baru selesai 40 persen

Lukisan yang dia buat memang tidak biasa, menggunaka cat tembok dia mewarnai kanvas berukuran 2,5×4 meter menjadi sebuah cerita bagaimana  daerah ini dulu diterjang gelombang setinggi tujuh meter lebih. Bisa dikatakan ini merupakan lukisan yang memakn waktu hingga sebulan waktu pengerjaannya. Belum lagi Pak Bambang harus mencari tahu bagaimana kondisi dan tata ruang desa tersebut sebelum tsunami.

Namun Pak Bambang yakin lukisan tersebut akan selesai sebelum tanggal 26 Desember nanti. Karena dia ingin memamerkan dua lukisan yang dibuatnya pada masyarakat dan Pemerintah Aceh nantinya. Pameran itu nanti juga akan dia selenggarakan di desa Lambada Lhok.

Pak Bambang dan Bang Taufik

Advertisements

8 thoughts on “Melukis Tsunami

  1. Kalok inget ini, aku sedih banget karena banyak sodara ku yang meninggal.. 😦

    Btw, di Banda katanya kayak ada acara gitu ya? Liputan dari negara Jepang. 😀

    • Iyaaa… Alhamdulillah udah banyak perubahan 10 tahun ini. Ngak kelihatan kalau di sini pernah tsunami, kecuali ada museum tsunami sama tempat wisata tsunami lainnya. Yah paling kerasa bagian pantai aja agak lebih luas sih. Hehehe..

      Tapi alhamdulillah nasyarakatnya udah bangkit. 🙂 makasih bang doanya

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s