[Berani Cerita #23] Rumah Pelangi

image from: gugel

 Kau suka pelangi?

Itu pertanyaan seseorang padaku saat aku tengah berteduh di bawah pohon asam kala hujan turun. Tentu saja aku mengangguk.

Aku sangat suka pelangi. Lengkungan berwarna-warni yang hadir usai rinai hujan itu sangat indah. Tujuh paduan warna tersebut adalah hadiah Tuhan setelah aku tidak bisa keluar bermain saat hujan, ini kata ibu pemilik panti asuhan. …Read More

[Berani Cerita #22] Trapped!

“Apa yang kau lakukan Kim Na Eun?” teriak laki-laki itu saat melihat gadis itu menaiki tangga kelas. Gadis itu hanya diam, sampai selembar kertas bertuliskan ‘Skors’ diberikan padanya.

“Aku dijebak, Taemin-ah” ujar Naeun. Taemin menatapnya peralahan untuk memastikan peraktaan Na Eun.

“Aku dijebak,” ulang perempuan tersebut. Suaranya pelan dan bergetar. Perlahan tangan perempuan itu mengusap mukanya yang masih tertunduk. …Read More

[BeraniCerita#18] Tiket Keberuntungan

“Ah gagal lagi!” keluh Karina sambil menatap pengumuman kuis minggu ini. Hampir tiga bulan ini dia terus melototi halaman yang sama majalah mingguan itu. Melihat namanya tidak ada di sana, tanpa perasaan bersalah dicampaknya majalah yang dibeli di kaki lima itu begitu saja.

“Hufh!” perempuan berjilbab biru itu menghempaskan badannya di sofa. Diambilnya remote televisi. Kembali mencari chanel yang bisa mengubah moodnya saat ini.

“Apasih ini, ngeselin banget dari tadi!” ujarnya setengah berteriak. Ulfa yang tengah membereskan buku-buku dikamarnya berhenti sejenak. Melongokkan kepalanya mencari sumber suara yang sarat kemarahan itu. Dilihatnya Karina tengah duduk berpangku tangan di depan televise. Remote dan majalah berserakan di sekitarnya. Tidak hanya dua benda itu saja, plastik-plastik bekas bungkusan makanan juga tergeletak ‘rapi’ di sana. Bersama dengan komik kesukaannya. …Read More

Kutunggu Kau Hingga Nanti

Kugoyangkan sedikit kakiku. Disini, tempatku terakhir kali bersamanya. Tidak ada yang tau apa yang Tuhan persiapkan untukku kemarin. Tidak juga hari ini. Atau beberapa jam nanti.

“Dor!”
Air telaga yang semula tenang berubah menjadi riak saat tubuh seorang perempuan terhempas kesana.
“Yudo! Gila lu ya,” ujar Mira setelah timbul kembali kepermukaan. Lelaki yang dipanggil Yudo hanya terkikik di atas dermaga. Perlahan dia berjongkok untuk merapatkan dirinya dengan sahabat kecilnya itu.

Angin seperti tau bahwa aku tidak sendiri di sini. Dedaunan seakan tau bahwa angina ingin bermain dengannya, hingga ia menyesuaikan geraknya bersamaan dengan lambaiannya. Hingga perlahan, anginpun membelaiku.

“Lu yakin mau di sini terus?” tanya lelaki berkulit putih dengan tinggi 170 cm itu. Perempuan yang terus bersamanya itu mengangguk pelan.
“Tidak takut sendirian?” tanyanya lagi sambil menaruh handuk kecil di bahu Mira.
“Sama sekali tidak,” perempuan tersebut menggeleng cepat dan pasti. Kemudian seutas senyum terpancar disana.

Pandanganku tetap terpaku pada air tenang di sana. Pada telaga yang luas ini. Pada tempat yang telah kutorehkan kenangan-kenanganku bersamanya. Tempat ini, berdua.

“Berarti lo mau dong nunggu gue” ucapnya lagi.

***
diikutsertakan dalam #FF2in1 tema kedua: Akulah si telaga yang diadakan oleh @nulisbuku