Percaya Kamu, AKu, Kita!

Hai seseorang yang paling berharga untukku saat ini dan mungkin selamanya.

Seorang temanku berkata kalau aku sama sekali tidak yakin bahwa kamu itu pacarku. Itu diucapkannya saat kami sedang berada di kantin kampus, dan abang tingkatku juga mengatakan hal yang sama. Lalu aku tanya, seperti apa yakin itu?

“Seperti Jufri yang dengan bangganya mengampilkan foto dirinya dengan pacarnya. Kalau kamu dek, kamu tidak percaya sama dia. Kamu cuma main-main!” kata Herry. Continue reading

Barang Bekas

“Dibalik penyesalan seorang wanita, pasti ada pria bejat dimasa lalunya”

Tiba-tiba pengen banget ngubek-ngubek lagi blognya kak Febri, orang yang ngak sengaja jadi temen akibat komen-komenan di blog. Yah mungkin itulah gunanya blog, menggantikan surat pena yang dulu harus menggunakan jasa pos dan perangko. Sebelum nanya panjang lebar, aku teringat sebuah tulisan kak Feb beberapa bulan lalu. Judulnya Fatal. Tulisan sederhana tentang sebuah pengungkapan hal yang lumrah dilakukan sama anak-anak muda sekarang.

Continue reading

Kami Ini Bukan Dukun Lho!

Ini cerita tentang sesorang, yang menahan sejumput amarah hingga dia tumbuh sebesar gunung. Disimpannya hingga membusuk di dasar hatinya.

Marahnya itu pada temannya. Disimpannya di tempat penyimpanan terbaik di hatinya. Bergumpal-gumpal dalam darahnya. Hingga menyatu dalam dirinya, menjadi orang kedua. Bayangannya adalah amarahnya.

Tidak ada yang membuat saluran untuk mengeluarkan amarah lelaki itu. Tidak pula temannya. Karena tidak ada yang tau bahwa dia tengah memendam amarah.

Bagaimana orang lain akan tau kalau dia sedang kesal? Apa semua orang memegang bola kristal layak perempuan gipsi yang tengah meramal? Apa manusia itu sehebat Tuhan yang bisa tau isi hati manusia? Apa harus menjadi dukun agar dia bisa mengeja kata yang dibisikkan hati?

Ada yang berkata padaku petang ini, kita ini bukan dukun hingga bisa tau isi hati seseorang seutuhnya. Kita juga manusia, sama seperti orang itu.

Ada kutipan yang bilang, kalau ingin sesuatu maka minta! Kalau mengganggu katakan! kalau ada keluhan sampaikan! Orang itu bukan Tuhan yang tau apa yang terbersit di hati.

Jadi jangan tambah dendam saat orang yang tidak kamu suka tidak merasa kalau dia tengah dimusuhi. Sedangkan sikapmu masih saja seperti biasa, padahal kamu sedang marah. Jadi siapa yang tengah merugi? Dirimu sendiri. Kamu yang akan sakit saat amarah di hatimu tidak dikeluarkan. Dia akan terus mendesak masuk hingga ke tulang rusukmu, mengotori hatimu perlahan. Dan sakitnya akan terus menganga saat orang yang kamu benci malah tidak tahu kamu sedang kesal padanya.

Mengapa tidak katakan, “saya marah sama kamu. Kamu salah! Bisa tidak perbaiki sikapmu!”

Itu kata-kata paling simple yang bisa dikatakan saat kita tengah marah. Katakan kamu marah. Bilang bahwa kamu tidak suka. Keluarkan uneg-uneg yang ada di hatimu!

Jangan hanya bisa memaki, saat kamu lihat dia yang kamu benci tertawa. Jangan tambah dendam saat dia belum minta maaf. Karna dia tidak tau, atau lupa kalau pernah buat salah sama kamu. Diamkan dua hari, lalu katakan pada hari ketiga kamu marah sama dia. Bukankah itu akan membasuh api di jiwamu?

Terlalu banyak masalah yang dipikul manusia, apalagi saat dia bertambah dewasa, hingga dia tidak akan sanggup mengurus urusan orang lain. Bahkan tidak akan peduli pada urusan orang lain saat urusannya belum selesai. Maka katakan! kami bukan dukun atau paranormal bagi kalian!

NB: ini sebenarnya postingan lama, cuma karena masih banyak orang yang merasa ingin ‘diterawang’ alias masih banyak yang ngasih kode-kode, jadi ini diposting ulang. 😀 Selamat membaca.