[Berani Cerita #23] Rumah Pelangi

image from: gugel

 Kau suka pelangi?

Itu pertanyaan seseorang padaku saat aku tengah berteduh di bawah pohon asam kala hujan turun. Tentu saja aku mengangguk.

Aku sangat suka pelangi. Lengkungan berwarna-warni yang hadir usai rinai hujan itu sangat indah. Tujuh paduan warna tersebut adalah hadiah Tuhan setelah aku tidak bisa keluar bermain saat hujan, ini kata ibu pemilik panti asuhan. …Read More

[Berani Cerita #22] Trapped!

“Apa yang kau lakukan Kim Na Eun?” teriak laki-laki itu saat melihat gadis itu menaiki tangga kelas. Gadis itu hanya diam, sampai selembar kertas bertuliskan ‘Skors’ diberikan padanya.

“Aku dijebak, Taemin-ah” ujar Naeun. Taemin menatapnya peralahan untuk memastikan peraktaan Na Eun.

“Aku dijebak,” ulang perempuan tersebut. Suaranya pelan dan bergetar. Perlahan tangan perempuan itu mengusap mukanya yang masih tertunduk. …Read More

Puasa Pertama di Pengungsian

Masih ingatkan berita menyedihkan menjelang puasa Ramadhan tahun ini? Yap, saudara kita di daratan tinggi Gayo sedikit berduka karena mereka tidak punya persiapan apapun untuk menyambut puasa. Pasalnya, seminggu sebelum bulan suci ini datang, tepatnya tanggal 2 Juli 2013, dua kabupaten di Aceh dilanda gempa. Dan kejadian itu telah menghabiskan seluruh harta benda mereka. Tidak hanya tempat tinggal, tapi juga dua kampung ikut ‘tenggelam’ setelah diguncang oleh Allah swt. …Read More

Jodoh Itu ditangan Siapa?

Oke pembahasan hari ini agak berat sikit. Masalah jodoh! Kenapa aku pengen nulis hal ini? Simple sih alasannya. Karna aku belum dapat jodoh dan karena kawan aku yang galau jodohnya pergi kemana. Tapi lebih tepatnya adalah karena orang yang diyakini bakal jadi jodohnya itu malah ditentang sama orang terdekatnya. Miris banget emang. =.=”

Pertanyaan sederhana. Jodoh itu sebenarnya ditangan siapa sih? Di tangan Tuhan? Bener! Allah swt yang nentuin jodoh kita. Dari sebelum kita lahir semua langkah, jodoh, rezeki (apalah satu lagi itu aku lupa) udah dituliskan buat kita. Bahkan, perempuan diciptakan dari rusuk seorang lelaki, otomatis kita bakal ketemu kan sama pemilik kita? As simple as that if other people think like that.

Nah,masalahnya sekarang adalah semua orang seperti berhak untuk mengatur jodoh orang lain. Keluarga besar, teman, sahabat, tetangga, orang satu kampung, bahkan orangtua. Keadaan sekarang bahkan menunjukkan bahwa mereka-mereka yang tersebut diatas merasa lebih berhak untuk menentukan jodoh seseorang. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyindir siapapun, hanya ingin agar mereka lebih merasa bahwa jodoh itu tidak akan lari kemana-mana.

Misalnya si A yang sudah mantap ingin membina rumah tangga (saelah bahasannya pake acara peras otak mamen) dengan si B. Kurangnya si A ini cuma satu, dia tidak ganteng. Sehingga teman-teman si B menyarankan untuk mencari orang lain yang lebih sepadan dengan si B. Ya istilahnya kalo ganteng nyarinya yang cantek, kalo yang cantek harus bejodohnya sama yang ganteng.

=.= aduh, ini jaman apaan yak ngenilai ornag cuma karena fisiknya. Ganteng ama cantik itu bonus masbro, mbak bro! Yang penting dia rajin solat ngak? rajin ngaji ngak? bisa ngingatin kita ke jalan Allah ngak? That’s the point!

Masih ingat kata Rasulullah saw yang nyuruh cari istri dilihat dari empat hal, 1)harta, 2) keturunan 3) cantik; 4) agama. “Pilihlah karena agamanya dan itu akan membuatmu bahagia” (HR Mutafaqun ‘alaih)

Nah, nyari suami juga karna empat hal yang itu juga. Sama aja mbak bro! Misalkan dia ngak ada harta, mau dilamar pake apa? pas udah nikah mau makan apa? Mikir juga dong kan ya. Trus juga keluarganya gimana, baik ngak sama kamu? sering jutek-jutekin kamu ngak? Ya kalau keluarga si calon baik, kenapa harus bingung? Toh kita nanti ngak bakal dijadiin pembantu kalau udah nikah.

Ganteng atau cantik? sekali lagi bonus! Yang paling penting adalah agamanya! Simple kan?
Seorang kakakku pernah berkata “Nurul nanti kalau cari suami, cari yang baek jangan cari yang ganteng!”

Aku heran dong, secara aku selalu pengen dapat pacar dan calon suami yang mirip abang Lee Joon, atau abang Chang min, atau abang Kyu Jong. Lah, ini malah disuruh jangan cari yang ganteng. gimana sih?

“Kalau yang baek, kita bertingkahpun dia bakal tetap mau sama kita. Kalau dia ganteng, kita bertingkah dia bisa cari yang lebih cantik daripada kita. Kita yang capek jaga dia biar ngak lari-lari kemana-mana,” jelas si kakak.

Yang ngejalanin hubungan itu kamu kok kak, bang! Bukan teman-teman kamu. Misalkan kamu nyaman dengan calon kamu karena dia baik, akhlaknya bagus, agamanya bagus (yah walaupun dulu juga pernah jadi orang brengsek tapi berubah kenapa ngak? Toh berubahnya ke arah lebih baik!), dan yang paling penting kamu bisa menjadi diri sendiri saat bersama dia kenapa harus ditolak cuma karena sahabat kamu ngak suka ngeliat dia! Helloo… yang ijab kabul mah dia sama Bapak kamu, bukan di doi sama sahabat cowok kamu. Gimana sih? Adooooh… (khas anak muridku dulu kalo udah ngak sanggup mikir lagi!)

Sahabat, bukan berarti kita nyepelein mereka lho. Sahabat bisa ngasih kita saran, solusi, dan pendapat mereka tentang pasangan yang kita pilih. Tapi lagi-lagi bukan mereka yang berhak menentukan seseorang jadi jodoh kamu atau bukan. Keputusan akhir tetap pada kamu, yang ingin membina rumah tangga dengan seseorang yang kamu suka. Ya sahabatmu bakal ngelakuin hal yang sama dengan orang yang dia suka toh?!

Aku sama sekali tidak pernah meremehkan sahabat! Sama sekali tidak! Bagiku, sahabat itu adalah hal terindah setelah orangtua dan keluarga yang Allah berikan ke aku. Tapi, sekali lagi mereka sama sekali bukan penentu jalan hidup aku. Sahabat bisa memberikan pandangan mereka terhadap masalah yang kita lalui (yah salah satunya masalah pasangan kita), mereka mungkin ngelihat hal yang tidak pernah kita lihat dari pasangan kita. Tapi mereka bukan berarti harus memaksa kehendak untuk menyuruh kita untuk memilih seseorang berdasarkan pilihan mereka.

Andaikan, saat ini kamu memutuskan calon pasanganmu yang sudah pada putusan terakhir ini menikahimu, dan kamu sudah mantap dengannya. Lalu, ketika nanti ada orang lain lagi yang datang dalam hidupmu dan (lagi-lagi) sahabatmu tidak suka dengan orang itu lantaran tidak nyambung dan bersikap kampungan, apa harus putus lagi? Kamu mau begitu sampai kapan? Selamanya? Saat sahabatmu sudah menggendong dua anak, dan dia masih tetap dengan ketidaksukaannya pada pasanganmu lalu kamu tidak menikah?

Ibaratnya seperti seseorang memutuskan pacarnya hanya karena melihat orang lain yang lebih dari pacarnya. Dan saat dia menemukan orang lain yang lebih lagi dari orang itu, dia akan melakukan hal yang sama. Berulang kali. Lalu sampai kapan?

Jodoh itu ada di tanganmu, dengan shalat istikharah dan minta petunjuk pada Allah. Bukankan orang yang ta’aruf yang dikenalkan oleh guru mengajinya juga melakukan hal yang sama? Guru ngaji (murabbi) tersebut memperkenalkan calon dan memberi masukan, dua orang calon ini berkenalan dan mencari tahu apa yang cocok dari diri mereka berdua tanpa ada campur tangan murabbi. Kalau cocok lanjut, kalau tidak ya katakan tidak. Sedikitpun tidak ada hak bagi murabbi untuk menveto bahwa mereka harus menikah. Itu perasaan mbak bro, mas bro! Bukan beli ice cream karena kita suka warna dan rasanya, atau beli kalung karena dia kelihatan bling-bling dan unik.