Kenalan Yuk!

Kenalan Yuk!

Kalimat itu sudah seminggu ini mengganggu Silvi. Hampir 24 jam waktunya dihabiskan untuk membaca kalimat yang sama; Kenalan Yuk.

Matahari siang yang memantul dari balik jendela kaca menemani Silvi yang tengah mengurusi angka-angka. Deadline yang memaksanya untuk terus bercinta dengan rentetan angka di dalam diktatnya. Sebelah tangannya tengah asik menyoret sederet angka di buku pembukuan yang hampir selesai sebagian. Tangan kirinya mengambil segelas cappucino dan langsung diminumnya perlahan.

Konsentrasinya sedikit buyar saat layar smartphonenya berkedip, tanda sebuah pesan masuk. Buru-buru Silvi mengambilnya smartphone navy bluenya. Dengan cekatan, sebelah tangannya langsung membuka pesan itu.

Aku baru tau kalau kamu suka kopi.

Tak ada nama pengirim. Sederat angka tertera di sana. Sebelah alis mata Silvi naik. “Siapa ya?” batinnya. Tangan dan perhatiannya sudah beralih sepenuhnya pada handphone touch screen berukuran 4 inci.

“Ah paling sms nyasar. Abaikan!” ujarnya setelah setengah jam waktunya terpakai untuk menebak siapa pengirim sms itu.

Silvi bersiap untuk kembali menuliskan pembukuannya. Belum sampai setengah menit dia menggenggam pulpen, layar hpnya kembali menyala.

Kenalan yuk!

Pupil mata Silvi membesar. Pesan itu lagi. Selalu didapatnya saat dia tengah duduk di coffeshop kesayangannya.

Kalau sudah kenal?

Ragu-ragu dia membalas. Saat Silvi menaruh handphonenya di meja, gantian layar handphone di pojok sebelah kanan coffeeshop yang menyala. “Akhirnya!”

Perlahan dia bangkit menghampiri gadis berkacamata yang kembali tenggelam dalam tugas kampusnya. “Kenalan Yuk!” katanya sambil meletakkan segelas cappucino hangat disamping laptop Silvi.

“Reza?” Silvi hampir tidak bisa bernafas saat cowok yang telah lama disukainya mengajaknya kenalan.

Advertisements

8 thoughts on “Kenalan Yuk!

  1. “Buru-buru Silvi mengambilnya smartphone navy bluenya. ”
    cmiiw: -nya di kata ‘mengambil’ sepertinya tidak perlu.

    “sebelah tangannya langsung membuka pesan itu.”
    cmiiw: biasa juga pake jari jempol buat buka sms #pffft

    “ujarnya setelah setengah jam waktunya terpakai untuk menebak siapa pengirim sms itu.”
    cmiiw: antara penasaran atau cewek lemot. kelamaan tuh

    “layar hpnya kembali menyala.”
    cmiiw: di atas kan sudah smartphone gitu, ganti deh dengan majas saja lebih baik.

    “Ragu-ragu dia membalas. Saat Silvi menaruh handphonenya di meja, gantian layar handphone di pojok sebelah kanan coffeeshop yang menyala. ”
    cmiiw: satu paragraf ini saya kurang ‘klop’, gunakan nama saja di bagian awal, jangan ‘dia’ karena tokoh tidak dikenal di ceita ini bernama dia.

    “Silvi hampir tidak bisa bernafas saat cowok yang telah lama disukainya mengajaknya kenalan.”
    cmiiw: terlalu biasa

    keseluruhan:
    gunakan majas sebisanya pada narasi yg singkat agar ada nilai plus. dan akhir yang terlalu mainstream, who know kalau si silvi suka reza? mainkan imajinasi lagi tokoh apa yang cocok jadi si dia yang mengejutkan.

    • Makasih bang masukannya. Iya nih, amat kurang majas. Udah lama ngak nulis *alasan utama* jdinya ngak terlalu greget lagi nulisnya.

      Moga bisa berkembang di FF hari kedua. Amiiin.
      Makasih ya bang

Terima kasih untuk komentar kamu. ☺♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s